"Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah
kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diri sendiri. Bagaimana
bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri"
Aku sampai di bagian
Aku sampai di bagian
bahwa aku telah jatuh cinta
namun orang itu hanya dapat kugapai
sebatas punggungnya saja
seseorang yang hadir sekelebat
bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai masa
sebelum tangan ini sanggup mengejar
seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat
sehalus udara, langit, awan atau hujan
— Hanya Isyarat Rectoverso.
“‘Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa…’ Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.”
“…Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, napasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah ke mana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin ia pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi.”
—dee, firasat—
— Hanya Isyarat Rectoverso.
Dunia tidak lagi sama.
Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku
galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu
yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang
sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak
dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan
rahasia darimu?
— Firasat. Rectoverso.
“‘Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa…’ Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.”
“…Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, napasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah ke mana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin ia pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi.”
—dee, firasat—
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak ;)