Sabtu, 18 Mei 2013

From "Cinta Rectoverso"

Seperti yang Tano katakan dalam omnibus Rectoverso yang berjudul Hanya Isyarat, bahwa setiap di dunia ini adalah terhubung, tersambung. Dunia bukan merupakan satu bentukan garis lurus yang tidak berujung. Melainkan melingkar, berputar, saling bertautan satu sama lain, untuk itulah setiap hal yang terjadi daripadanya adalah beralasan.
Tidak ada yang kebetulan. 
Mendengar lagi kata-kata dari Edward Lorentz tentang Teori Chaos, yang merumuskan adanya suatu Butterfly Effect, yaitu Efek yang mengibaratkan kepakan sayap kupu-kupu di Brasil yang akhirnya mampu memicu terjadinya tornado di Texas beberapa bulan kemudian, membuat pengertian semakin kuat tentang sistem yang memiliki ketergantungan yang sangat peka.
Semua sudah direncana. Mengapa kita harus berdamai dengan perpisahan, mengapa kita harus berada pada satu titik pertemuan, kemudian menjatuhi rasa, bila akhirnya patah hati yang membayar semuanya.
Kadang, semesta memaksa kita untuk terus mengerti melalui cara-cara yang tidak benar-benar kita sadari. Semesta memaksa kita untuk belajar, untuk tidak menebak-nebak segala hal, serta percaya bahwa semua hal sekecil apapun di dunia ini tidak pernah ada tanpa makna.
Semesta pun memberi kita pengertian bahwa ada beberapa hal yang memang tidak mampu diungkap, atau mungkin tidak akan pernah diucap. Kemudian, dari sana lah kita belajar apa itu menerima, memasrahkan. 
Karena ketika suatu hal memang tidak diperkenankan untuk diutarakan, maka sekuat apapun kita mencoba, tidak akan pernah bisa. Maka biarkan saja, mengalir adanya. Kembali lagi, dunia adalah ikatan yang saling terkoneksi membentuk suatu circle, dan sekali lagi, setiap hal di dalam dunia itu sudah direncana, bukan kebetulan.
Kira-kira seperti itu. 

from Tumblr

Cinta Rectoverso

"Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diri sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri"

Aku sampai di bagian
bahwa aku telah jatuh cinta
namun orang itu hanya dapat kugapai
sebatas punggungnya saja
seseorang yang hadir sekelebat
bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai masa
sebelum tangan ini sanggup mengejar
seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat
sehalus udara, langit, awan atau hujan
 Hanya Isyarat Rectoverso.

Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?
Firasat. Rectoverso.
  
‘Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa…’ Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.

“…Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, napasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah ke mana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin ia pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi.”
—dee, firasat—

"Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih daripada siapapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun, aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih daripada apa pun."

 -CINTA RECTOVERSO-

Rabu, 15 Mei 2013

Burn !

Setelah sekian lama perasaan itu padam, tiba-tiba ia menyala lagi. Entah kenapa nyalanya sekarang jauh lebih besar ketimbang dulu. Bahkan ia berani untuk berusaha membakar apapun yang ada disekitarnya. Padahal ia telah berusaha mati-matian agar ia tak lagi menyala. Sia-sia dan terlambat karena ia berhasil membakar semuanya, hingga ke titik terkecilnya.