Seperti yang Tano katakan dalam omnibus Rectoverso yang
berjudul Hanya Isyarat, bahwa setiap di dunia ini adalah terhubung,
tersambung. Dunia bukan merupakan satu bentukan garis lurus yang tidak
berujung. Melainkan melingkar, berputar, saling bertautan satu sama
lain, untuk itulah setiap hal yang terjadi daripadanya adalah beralasan.
Tidak ada yang kebetulan.
Mendengar lagi kata-kata dari Edward Lorentz tentang Teori Chaos, yang merumuskan adanya suatu Butterfly Effect, yaitu Efek
yang mengibaratkan kepakan sayap kupu-kupu di Brasil yang akhirnya
mampu memicu terjadinya tornado di Texas beberapa bulan kemudian,
membuat pengertian semakin kuat tentang sistem yang memiliki
ketergantungan yang sangat peka.
Semua sudah direncana. Mengapa kita harus berdamai dengan
perpisahan, mengapa kita harus berada pada satu titik pertemuan,
kemudian menjatuhi rasa, bila akhirnya patah hati yang membayar
semuanya.
Kadang, semesta memaksa kita untuk terus mengerti melalui
cara-cara yang tidak benar-benar kita sadari. Semesta memaksa kita untuk
belajar, untuk tidak menebak-nebak segala hal, serta percaya bahwa
semua hal sekecil apapun di dunia ini tidak pernah ada tanpa makna.
Semesta pun memberi kita pengertian bahwa ada beberapa hal yang
memang tidak mampu diungkap, atau mungkin tidak akan pernah diucap.
Kemudian, dari sana lah kita belajar apa itu menerima, memasrahkan.
Karena ketika suatu hal memang tidak diperkenankan untuk
diutarakan, maka sekuat apapun kita mencoba, tidak akan pernah bisa.
Maka biarkan saja, mengalir adanya. Kembali lagi, dunia adalah ikatan
yang saling terkoneksi membentuk suatu circle, dan sekali lagi, setiap hal di dalam dunia itu sudah direncana, bukan kebetulan.
Kira-kira seperti itu.
from Tumblr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak ;)