Goodbye, I Love You
(Aci Utami - @acichul)
Aku tau ini bukan pertemuan pertamaku tapi aku selalu merasa
setiap pertemuanku dengan Morgan selalu berarti. Entahlah aku juga tidak
mengerti mengapa semuanya terasa indah ketika aku selalu di dekatnya.
Sebenarnya pertemuan yang benar – benar pertama adalah saat ia masuk Les Biola
di tempat dimana aku juga Les Biola itu.
“hallo
semuanya, namaku Morgan” begitulah ia memperkenalkan diri di depan kami semua. Posisi
tempat duduknya ada disampingku tepat, karena waktu itu tak ada kursi yang
kosong selain disitu. Lalu kami saling berkenalan dan saling megetahui satu
sama lain.
“halo,
aku Aci, semoga kita bisa berteman baik ya” akupun memperkenalkan diri padanya.
Awalnya kami hanya berteman biasa karena di tempat itu akulah orang pertama
yang menjadi temanya.Waktupun terus berjalan kami semakin akrab hingga akhirnya
aku diperkenalkan pada sosok lain.
“aci,
ini Rafael dia satu-satunya sahabatku yang ada di Indonesia.” Morgan memperkenalkan Rafael
kepadaku.
“halo
aci, gue Rafael” rafaelpun dengan ramahnya memperkenalkan diri dan menawarkan
untuk menjabat tanganku. Akupun membalas jabatan tangan dan juga memepekenalkan
diri.
“Hai,
aku Aci, temenya Morgan”.
Setelah perkenalanku dengan Rafael, kami bertiga jadi semakin
akrab, bahkan keman-mana kami selalu bersama. Mulai dari nonton, hang out
bareng, atau sekedar mengisi waktu di hari weekend. Tak terhitung berapa banyak
waktu yang kuhabiskan bersama mereka. Semenjak setahun lalu, yah sudah setahun
kami berteman.
Morgan tipe orang yang ceria dia tidak pernah menunjukkan
rasa sedihnya kepadaku, bahkan saat ia mendapati ayahnya telah tiada, ia
berusaha tegar, dia tidak menunjukkan air matanya padaku meskipun aku tahu ia
sangat terpukul karena kejadian itu. Ia bercerita padaku dan Rafael bahwa ayahnya meninggal karena serangan
jantung. Dia juga menjelaskan bahwa semua ini disebabkan karena ada seorang
investor yang menarik sahamnya secara tiba-tiba dari perusahaan ayahnya.
Padahal jumlah saham yang ditanam adalah sekitar 1M. Morgan berjanji jika ia
menemukan orang itu ia pasti akan menghabisi nyawa orang itu. Bukan karena
jumlah nominal uangnya, tetapi karena kematian ayahnya yang masih tidak bisa ia
terima. Aku dan Rafael hanya bisa berusaha menghibur dan menguatkanya agar ia
tetap tegar menghadapi cobaan karena hidup terus akan berjalan.
Hari demi hari kami lewati bersama, namun Morgan berubah, ia
cenderung menjadi pribadi yang lebih pendiam, aku sadar perubahanya bukan tanpa
sebab. Akhir – akhir ini ia sering sekali tidak masuk Les Biola, hingga orang –
orang bertanya padaku sebab ketidak hadiranya. Aku tidak bisa menjelaskanya
karena kami juga lama tidak bertemu. Lalu aku menanyakan hal itu pada Rafael.
Rafael menjelaskan semuanya padaku tentang sebab Morgan menjadi seperti ini.
Ternyata selama ini Morgan mati - matian mencari orang yang telah membuat
ayahnya tiada. Aku dan Rafaelpun pergi ke rumah Morgan namun Morgan tidak di
rumah. Kata Ibunya dia pergi tanpa pamit sejak tadi pagi dan sampai malam ini
ia belum kembali . Aku meminta Rafael untuk mengantarku ke tempat dimana Morgan
selalu mengunjungi tempat itu ketika perasaanya sedang Kacau. Tempat itu adalah
Danau belakang kampusnya. Kamipun langsung berangkat menuju tempat yang disebutkan
tadi.
Sesampainya
di depan kampus aku tidak menemukan tanda – tanda Morgan ada disana, aku bahkan
tidak melihat motor yang biasa ia pakai. Jika di tempat ini tak juga kutemui
dia, aku tidak tahu aku harus kemana lagi. Akhirnya tanpa basa – basi aku
menarik tangan Rafael dan segera mengajaknya untuk masuk ke dalam kampus.
“Rafael
ayo cepetan masuk!” aku berkata kepadanya dan buru – buru masuk ke dalam.
“tapi Ci, ini kampus udah sepi, mana mungkin
morgan di dalam?” Rafael menolak.
“udah
deh Raf, kita coba masuk dulu ke dalam kita lihat ada apa enggak dia disana,
ayo Raf plis”
aku merengek
mengajaknya masuk ke dalam. Akhirnya Rafael pun mau masuk ke dalam. Kami
menyusuri lorong demi lorong Kampus dan akhirnya kami sampai di Danau. Dengan perasaan yang
teramat kecewa aku tak menemui siapapun, Morgan tidak ada.
“sekarang
kamu lihat sendiri kan ci, dia ga ada disini!” Rafael berusaha membela diri.
“terus kita mesti gimana raf? “ dengan nada kecewa akhirnya akupun pasrah.
“yaudah
mending aku anterin kamu pulang aja sekarang, ini juga udah malam aku gamau
kamu sakit!” Rafael berusaha membujukku.
Telepon genggamku berdering, ada
panggilan masuk, tertulis nama “Morgan” yang memanggilku, aku buru - buru
mengankat teleponya.
“halo,
Morgan ?” –Aci-
“iya,
Aci, kamu lagi dimana? “ –Morgan-
“yaampun
Morgan, aku tuh khawatir dengan keadaan kamu, kamu dimana sih? Sudah seminggu
ini handphone kamu gabisa aku hubungi” -
Aci –
“maaf
ya udah buat kamu khawatir, aku ga kemana – kemana kok, aku masih di Jakarta,
kamu belum jawab pertanyaanku, kamu dimana sekarang?” –Morgan-
“iya
gapapa tapi jangan di ulangi lagi, aku lagi di Danau di belakang Kampus kamu!”
– Aci –
“Hah?
Disana? Ngapain? Sama siapa? “ – Morgan –
“aku
pikir kamu disini, makanya aku susul kamu kesini sama Rafael, tapi ini mau
pulang kok.” – Aci –
“yaudah
sekarang kamu cepetan pulang, aku gamau kamu kenapa – kenapa” –Morgan-
Morgan pun menutup teleponya. Rafael
mengantarku pulang, selama di perjalanan, entah kenapa dia begitu lamban dalam
mengendarai motornya. Tak secepat ketika ia mengantarku ke Danau tadi. Akhirnya
25 menit kemudian akupun sampai di
rumah, aku mempersilahkan Rafael masuk namun ia menolak. Sebelum ia pulang aku
mengucapkan terimakasih kepadanya dan
melambaikan tanganku padanya ketika ia pergi. Aku segera masuk ke dalam
dan tidur.
Keesokan paginya Morgan mengirimkan
pesan singkat yang isinya :
“selamat pagi, nanti kita jalan bareng ya,
udah lama kita ga jalan bareng.”
Aku
membalas pesan singkatnya :
“boleh, tapi ga sama Rafael?“
SMS
pun terkirim dan mendapat balasan kembali :
“gausah, kita jalan berdua aja, oke”
Aku menjalani rutinitas seperti
biasa, mandi lalu sarapan setelah itu mengerjakan seabrek tugas kuliah dari
dosen killer yang ga berperasaan. Tak terasa hampir 2 jam aku di depan laptop
tiba – tiba bibi mengetuk pintu,
“permisi
non, ada temennya non yang nungguin di bawah”
“iya
bi, terimakasih.”
Aku pun segera turun ke bawah, betapa kagetnya ternyata
Morgan sudah siap di ruang tamu.
“katanya
kalo mau kesini, nelfon dulu, kok udah sampe, hiii curang“ dengan wajah
keheranan
“sekali
– kali bikin surprise gapapa dong” Morgan tersenyum
“yaudah
kamu tunggu disini, aku mau ganti baju dulu siap – siap”
Akupun naik ke atas, siap – siap dan
ganti baju. Setelah semuanya siap kamipun berangkat. Disepanjang perjalanan
morgan bertanya padaku.
“aci
aku pengen ngajakin kamu ke Danau yang kemaren, kamu maukan?”
“terserah
yang penting bisa bikin kamu seneng” aku membalas ajakanya.
Setelah hampir 30 menitan kami
akhirnya sampai. Dia begitu antusias ingin segera ke Danau itu, bahkan di
sepanjang Lorong – lorong kampus dia terlihat buru – buru. Kami pun sampai di
Danau. Begitu aneh karena dia tiba – tiba memegang kedua tanganku, dan menatap
kedua mataku. Rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan aku
berkata dalam hati “ya tuhan apa yang akan dia lakukan”
Setelah
dia terdiam hampir 1 menitan akhirnya dia membuat sebuah pengakuan.
“Aci,
aku gatau sampai kapan aku bisa terus menyembunyikan perasaan ini, semakin lama
aku menahanya semakin sesak yang kurasa, aku harap kamu mengerti kalo aku benar
–benar bahagia kalo kamu ada diamping
kamu, aku saying sama kamu”
Aku terdiam sejenak, dadaku benar –
benar sesak seakan ada bom yang tiba – tiba
meledak. Aku bingung apakah aku juga harus jujur soal perasaanku.
Akhirnya aku manarik nafas dalam – dalam dan kuhembuskan perlahan. Akhirnya aku
punya keberanian untuk mengungkapkan kebenaran tentang perasaanku.
“aku
tahu ini bagian tersulit jika harus berkata jujur, tapi aku harus mengatakanya.
Aku juga sama sepertimu, begitu menyayangimu dengan ketulusanku, dulu aku takut
untuk mengatakan ini karena aku takut pertemanan kita akan hancur, tapi
sekarang aku begitu yakin semua itu pasti tidak akan terjadi”
“tahu
begitu, aku akan ngomong ke kamu dari dulu, semenjak kita bertemu” Morgan
tersenyum
“sebegitukah
kamu menyukaiku, pasti sulit untuk menahan perasaan itu” aku tertawa
Dia memelukku, aku hampir meneteskan
air mata karena begitu bahagia menerima kenyataan indah ini. Seseorang yang
begitu ku kagumi ternyata dia menerima apapun yang ada pada diriku dengan
tulus. Dia tersenyum kepadaku, pipiku merah dan hanya bisa menundukkan kepala.
“yaudah
kita pergi dari sini yuk” ajak Morgan
Aku hanya tersenyum, dia menggandeng
tangan kananku, begitu erat, seolah tidak ingin melepas sedetikpun genggaman
ini. Ketika kami hampir melangkahkan kaki meninggalkan Danau, tiba – tiba
teleponya berdering. Entah dengan siapa dia berbicara, dia hanya mengatakan .
“oke
aku segera kesitu”
Dari perkataanya aku mengerti pasti
dia akan menemui seseorang. Dia terus melangkah pergi dan menggandeng tanganku
tanpa berkata sepatah katapun. Aku menurut saja dia akan membawaku pergi
kemana, aku hanya diam di belakang boncenganya. Dia menjalankan motornya dan
menyuruhku untuk berpegangan erat. Aku hanya menurut. Dia mulai menyalakan
motornya dan menarik gas motor. Di sepanjang perjalanan dia benar – benar cepat
dalam mengendarai motornya.
Setelah hampir 45 menit akhirnya
kami sampai di sebuah danau yang cukup jauh dari perkotaan. Disana ternyata
Rafael telah menunggu dengan muka yang begitu lebam bekas pukulan tangan. Tanpa
basa – basi aku langsung mendekati Rafael, aku dan Morgan panik
“yaampun
Rafael kamu kenapa? “ tanyaku penasaran.
“tadi
ketika aku hampir mau pulang ke Rumah, aku di hadang oleh preman suruhan yang
bikin ayahnya Morgan meninggal waktu itu” Rafael mencoba menjelaskan dengan
menahan rasa sakit.
“kok
bisa? “ aku semakin penasaran dengan semua ini.
“waktu
habis nganterin pulang kamu kemaren, aku memaksa berhenti orang itu, terus aku
hajar dia” Rafael kembali menjelaskan
“kenapa
kamu ga langsung telepon aku pas kamu di hadang?” Morgan menyela
“aku
udah coba kontak kamu berkali – kali, tapi kamunya ga angkat “ Rafael membela
diri
“maaf
tadi aku sedang ada urusan penting tadi” kata morgan.
“yaudah
sekarang kita pulang ya, aku obatin kamu dulu.” Aku berusaha membantunya
bangkit
“gausah
ci, aku bisa sendiri, bukanyak kamu hari ini ada les? “ Tanya Rafael.
“iya,
ya udah kita pulang sama – sama aja, aku dan Morgan di belakang kamu, tapi kami
bawa motornya juga hati – hati ya” pintaku pada Rafael.
Akhirnya kami bertigapun pulang. Di
sepanjang perjalanan aku selalu mengawasi Rafael, dan dia begitu berhati – hati
dalam membawa motornya. Akhirnya Rafael sampai di rumahnya, akupun berpamitan
pulang karena aku harus bersiap – siap untuk berangkat Les Biola. Morgan pun
mengantarkan aku pulang. Dia begitu santai dalam membawa motornya. Aku begitu
tenang dan bahagia ketika aku di
sampingnya. Aku sampai di rumah, akupun segera bersiap – siap. mempersiapkan
Biolaku lalu berangkat lagi menuju tempat Les. Morgan kembali mengantarku ke
tempat Les. Setelah aku sampai, dia langsung buru – buru berpamitan padaku dan
pergi.
Sudah 2 tahun ini aku menjalani
hubungan ini. Hari demi hari kami lewati dengan penuh keceriaan, kini hidupku
menjadi lebih berwarna dengan Morgan yang selalu ada disampingku. Meskipun
kadang kala kami berantem karena masalah – masalah kecil yang kami hadapi.
Namun beruntungnya kami, karena selalu menjadi penengah dalam setiap masalah
kami.
Hari ini aku latihan full sampai
nanti malam, karena beberapa minggu lagi, akan diadakan pertujukkan orchestra yang
besar dimana aku terlibat di dalamnya. Setelah selesai aku mengabari ayahku
untuk menjemputku pada pukul 8 di halte depan tempat les. Karena ada urusan
akhirnya ayahku tidak bisa menjemputuku dan aku meminta Morgan untuk
mengantarku pulang. Kuhubungi dia, namun beberapa kali aku mencoba menghubungi
dia tak ada satupun jawaban. Satu jam berlalu aku tidak tahu bagaimana aku
pulang, akhirnya Rafael tiba – tiba menghubungiku, dia memberitahukanku bahwa
Morgan pasti akan datang untuk menjemputku, meski itu yang terakhir, aku tak
mengerti apa maksudnya tapi Aku terus menunggunya, berharap Morgan akan segera
datang. Waktu terus berlalu, 2 jam dalam penantian yang cukup meresahkan.
Akhirnya dari arah kejauhan aku melihat Morgan mengendarai sepeda motornya
dengan tidak teratur. Bukan perasaan lega yang aku dapatkan melainkan perasaan
kalut, sekejap aku langsung menangis. Dia turun dari motornya, aku segera
menghampirinya. Morgan terlihat berlumuran darah, kedua pipinya lebam, bahkan
di perutnya terdapat luka tusukan. Ia sekarat di depanku, dalam detik – detik
terakhirnya ia berusaha menjelaskan semua. Dia terjatuh di pangkuanku.
“aci
maaf selama ini aku telah mencari tahu dia dan akhirnya aku mengerti ternyata orang yang membuatku
seperti ini, dan membuat ayahku meninggal adalah ayah kamu, om Suherman.”
“kenapa
kamu baru memberi tahuku sekarang?” Aku semakin menangis sekencang – kencangnya.
Berusaha terus mendengar penjelasan yang begitu membuatku terpukul.
“Rafael
nekat mendatanginya, dan aku menyusulnya kesana tapi setelah sampai disana
Rafael sudah mati dihajar anak buah bajingan itu” dia berusaha untuk
menjelaskanya
“jadi
Rafael juga udah mati?” tangisanku semakin menjadi – jadi.
“aku
benar – benar minta maaf karena ayah kamu sekarang juga sudah meninggal, aku
tahu dia ayak kamu juga tadi, setelah aku tidak sengaja menemukan foto kamu dan
ayahmu di dompetnya. Aku harap kamu memaafkanku dan berharap kamu tegar.
Se….selamat tinggal Aci. Aku sayang kamu, dan terimakasih udah menjadi orang
terakhir dalam hidupku .” Dia memegang tangaku begitu erat.
Morgan menghembuskan nafas
terakhirnya di pangkuanku, aku hanya bisa menangis. Aku begitu menyesali semua
perbuatan ayahku, mengapa ia begitu tega memisahkaku dengan orang yang aku
cintai. Dan akupun berteriak sekeras yang aku bisa.
“Morgaaaaaaaan……”
-Begitulah
ketika takdir telah berbicara, sekuat apapun manusia untuk mengelaknya takdir
tetaplah takdir.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak ;)