Senin, 03 Desember 2012

Goodbye, I Love You


Goodbye, I Love You
(Aci Utami - @acichul)
Aku tau ini bukan pertemuan pertamaku tapi aku selalu merasa setiap pertemuanku dengan Morgan selalu berarti. Entahlah aku juga tidak mengerti mengapa semuanya terasa indah ketika aku selalu di dekatnya. Sebenarnya pertemuan yang benar – benar pertama adalah saat ia masuk Les Biola di tempat dimana aku juga Les Biola itu.
“hallo semuanya, namaku Morgan” begitulah ia memperkenalkan diri di depan kami semua. Posisi tempat duduknya ada disampingku tepat, karena waktu itu tak ada kursi yang kosong selain disitu. Lalu kami saling berkenalan dan saling megetahui satu sama lain.
“halo, aku Aci, semoga kita bisa berteman baik ya” akupun memperkenalkan diri padanya. Awalnya kami hanya berteman biasa karena di tempat itu akulah orang pertama yang menjadi temanya.Waktupun terus berjalan kami semakin akrab hingga akhirnya aku diperkenalkan pada sosok lain.
“aci, ini Rafael dia satu-satunya sahabatku yang ada di  Indonesia.” Morgan memperkenalkan Rafael kepadaku.
“halo aci, gue Rafael” rafaelpun dengan ramahnya memperkenalkan diri dan menawarkan untuk menjabat tanganku. Akupun membalas jabatan tangan dan juga memepekenalkan diri.
“Hai, aku Aci, temenya Morgan”.
Setelah perkenalanku dengan Rafael, kami bertiga jadi semakin akrab, bahkan keman-mana kami selalu bersama. Mulai dari nonton, hang out bareng, atau sekedar mengisi waktu di hari weekend. Tak terhitung berapa banyak waktu yang kuhabiskan bersama mereka. Semenjak setahun lalu, yah sudah setahun kami berteman.
Morgan tipe orang yang ceria dia tidak pernah menunjukkan rasa sedihnya kepadaku, bahkan saat ia mendapati ayahnya telah tiada, ia berusaha tegar, dia tidak menunjukkan air matanya padaku meskipun aku tahu ia sangat terpukul karena kejadian itu. Ia bercerita padaku dan Rafael  bahwa ayahnya meninggal karena serangan jantung. Dia juga menjelaskan bahwa semua ini disebabkan karena ada seorang investor yang menarik sahamnya secara tiba-tiba dari perusahaan ayahnya. Padahal jumlah saham yang ditanam adalah sekitar 1M. Morgan berjanji jika ia menemukan orang itu ia pasti akan menghabisi nyawa orang itu. Bukan karena jumlah nominal uangnya, tetapi karena kematian ayahnya yang masih tidak bisa ia terima. Aku dan Rafael hanya bisa berusaha menghibur dan menguatkanya agar ia tetap tegar menghadapi cobaan karena hidup terus akan berjalan.
Hari demi hari kami lewati bersama, namun Morgan berubah, ia cenderung menjadi pribadi yang lebih pendiam, aku sadar perubahanya bukan tanpa sebab. Akhir – akhir ini ia sering sekali tidak masuk Les Biola, hingga orang – orang bertanya padaku sebab ketidak hadiranya. Aku tidak bisa menjelaskanya karena kami juga lama tidak bertemu. Lalu aku menanyakan hal itu pada Rafael. Rafael menjelaskan semuanya padaku tentang sebab Morgan menjadi seperti ini. Ternyata selama ini Morgan mati - matian mencari orang yang telah membuat ayahnya tiada. Aku dan Rafaelpun pergi ke rumah Morgan namun Morgan tidak di rumah. Kata Ibunya dia pergi tanpa pamit sejak tadi pagi dan sampai malam ini ia belum kembali . Aku meminta Rafael untuk mengantarku ke tempat dimana Morgan selalu mengunjungi tempat itu ketika perasaanya sedang Kacau. Tempat itu adalah Danau belakang kampusnya. Kamipun langsung berangkat menuju tempat yang disebutkan tadi.
            Sesampainya di depan kampus aku tidak menemukan tanda – tanda Morgan ada disana, aku bahkan tidak melihat motor yang biasa ia pakai. Jika di tempat ini tak juga kutemui dia, aku tidak tahu aku harus kemana lagi. Akhirnya tanpa basa – basi aku menarik tangan Rafael dan segera mengajaknya untuk masuk ke dalam kampus.
“Rafael ayo cepetan masuk!” aku berkata kepadanya dan buru – buru masuk ke dalam.
 “tapi Ci, ini kampus udah sepi, mana mungkin morgan di dalam?” Rafael menolak.
“udah deh Raf, kita coba masuk dulu ke dalam kita lihat ada apa enggak dia disana, ayo Raf plis”
    aku merengek mengajaknya masuk ke dalam. Akhirnya Rafael pun mau masuk ke dalam. Kami menyusuri lorong demi lorong Kampus dan akhirnya  kami sampai di Danau. Dengan perasaan yang teramat kecewa aku tak menemui siapapun, Morgan tidak ada.
“sekarang kamu lihat sendiri kan ci, dia ga ada disini!” Rafael berusaha membela diri. “terus kita mesti gimana raf? “ dengan nada kecewa akhirnya akupun pasrah.
“yaudah mending aku anterin kamu pulang aja sekarang, ini juga udah malam aku gamau kamu sakit!” Rafael berusaha membujukku.
            Telepon genggamku berdering, ada panggilan masuk, tertulis nama “Morgan” yang memanggilku, aku buru - buru mengankat teleponya.
“halo, Morgan ?” –Aci-
“iya, Aci, kamu lagi dimana? “ –Morgan-
“yaampun Morgan, aku tuh khawatir dengan keadaan kamu, kamu dimana sih? Sudah seminggu ini handphone kamu gabisa aku hubungi”  - Aci –
“maaf ya udah buat kamu khawatir, aku ga kemana – kemana kok, aku masih di Jakarta, kamu belum jawab pertanyaanku, kamu dimana sekarang?” –Morgan-
“iya gapapa tapi jangan di ulangi lagi, aku lagi di Danau di belakang Kampus kamu!” – Aci –
“Hah? Disana? Ngapain? Sama siapa? “ – Morgan –
“aku pikir kamu disini, makanya aku susul kamu kesini sama Rafael, tapi ini mau pulang kok.” – Aci –
“yaudah sekarang kamu cepetan pulang, aku gamau kamu kenapa – kenapa” –Morgan-
            Morgan pun menutup teleponya. Rafael mengantarku pulang, selama di perjalanan, entah kenapa dia begitu lamban dalam mengendarai motornya. Tak secepat ketika ia mengantarku ke Danau tadi. Akhirnya 25 menit  kemudian akupun sampai di rumah, aku mempersilahkan Rafael masuk namun ia menolak. Sebelum ia pulang aku mengucapkan terimakasih kepadanya dan  melambaikan tanganku padanya ketika ia pergi. Aku segera masuk ke dalam dan tidur.
            Keesokan paginya Morgan mengirimkan pesan singkat yang isinya :
“selamat pagi, nanti kita jalan bareng ya, udah lama kita ga jalan bareng.”
Aku membalas pesan singkatnya :
boleh, tapi ga sama Rafael?“
SMS pun terkirim dan mendapat balasan kembali :
gausah, kita jalan berdua aja, oke”
            Aku menjalani rutinitas seperti biasa, mandi lalu sarapan setelah itu mengerjakan seabrek tugas kuliah dari dosen killer yang ga berperasaan. Tak terasa hampir 2 jam aku di depan laptop tiba – tiba bibi mengetuk pintu,
“permisi non, ada temennya non yang nungguin di bawah”
“iya bi, terimakasih.”
Aku pun segera turun ke bawah, betapa kagetnya ternyata Morgan sudah siap di ruang tamu.
“katanya kalo mau kesini, nelfon dulu, kok udah sampe, hiii curang“ dengan wajah keheranan
“sekali – kali bikin surprise gapapa dong” Morgan tersenyum
“yaudah kamu tunggu disini, aku mau ganti baju dulu siap – siap”
            Akupun naik ke atas, siap – siap dan ganti baju. Setelah semuanya siap kamipun berangkat. Disepanjang perjalanan morgan bertanya padaku.
“aci aku pengen ngajakin kamu ke Danau yang kemaren, kamu maukan?”
“terserah yang penting bisa bikin kamu seneng” aku membalas ajakanya.
            Setelah hampir 30 menitan kami akhirnya sampai. Dia begitu antusias ingin segera ke Danau itu, bahkan di sepanjang Lorong – lorong kampus dia terlihat buru – buru. Kami pun sampai di Danau. Begitu aneh karena dia tiba – tiba memegang kedua tanganku, dan menatap kedua mataku. Rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan aku berkata dalam hati “ya tuhan apa yang akan dia lakukan”
Setelah dia terdiam hampir 1 menitan akhirnya dia membuat sebuah pengakuan.
“Aci, aku gatau sampai kapan aku bisa terus menyembunyikan perasaan ini, semakin lama aku menahanya semakin sesak yang kurasa, aku harap kamu mengerti kalo aku benar –benar bahagia kalo kamu ada  diamping kamu, aku saying sama kamu”
            Aku terdiam sejenak, dadaku benar – benar sesak seakan ada bom yang tiba – tiba  meledak. Aku bingung apakah aku juga harus jujur soal perasaanku. Akhirnya aku manarik nafas dalam – dalam dan kuhembuskan perlahan. Akhirnya aku punya keberanian untuk mengungkapkan kebenaran tentang perasaanku.
“aku tahu ini bagian tersulit jika harus berkata jujur, tapi aku harus mengatakanya. Aku juga sama sepertimu, begitu menyayangimu dengan ketulusanku, dulu aku takut untuk mengatakan ini karena aku takut pertemanan kita akan hancur, tapi sekarang aku begitu yakin semua itu pasti tidak akan terjadi”
“tahu begitu, aku akan ngomong ke kamu dari dulu, semenjak kita bertemu” Morgan tersenyum
“sebegitukah kamu menyukaiku, pasti sulit untuk menahan perasaan itu” aku tertawa
            Dia memelukku, aku hampir meneteskan air mata karena begitu bahagia menerima kenyataan indah ini. Seseorang yang begitu ku kagumi ternyata dia menerima apapun yang ada pada diriku dengan tulus. Dia tersenyum kepadaku, pipiku merah dan hanya bisa menundukkan kepala.
“yaudah kita pergi dari sini yuk” ajak Morgan
            Aku hanya tersenyum, dia menggandeng tangan kananku, begitu erat, seolah tidak ingin melepas sedetikpun genggaman ini. Ketika kami hampir melangkahkan kaki meninggalkan Danau, tiba – tiba teleponya berdering. Entah dengan siapa dia berbicara, dia hanya mengatakan .
“oke aku segera kesitu”
            Dari perkataanya aku mengerti pasti dia akan menemui seseorang. Dia terus melangkah pergi dan menggandeng tanganku tanpa berkata sepatah katapun. Aku menurut saja dia akan membawaku pergi kemana, aku hanya diam di belakang boncenganya. Dia menjalankan motornya dan menyuruhku untuk berpegangan erat. Aku hanya menurut. Dia mulai menyalakan motornya dan menarik gas motor. Di sepanjang perjalanan dia benar – benar cepat dalam mengendarai motornya.
            Setelah hampir 45 menit akhirnya kami sampai di sebuah danau yang cukup jauh dari perkotaan. Disana ternyata Rafael telah menunggu dengan muka yang begitu lebam bekas pukulan tangan. Tanpa basa – basi aku langsung mendekati Rafael, aku dan Morgan panik
“yaampun Rafael kamu kenapa? “ tanyaku penasaran.
“tadi ketika aku hampir mau pulang ke Rumah, aku di hadang oleh preman suruhan yang bikin ayahnya Morgan meninggal waktu itu” Rafael mencoba menjelaskan dengan menahan rasa sakit.
“kok bisa? “ aku semakin penasaran dengan semua ini.
“waktu habis nganterin pulang kamu kemaren, aku memaksa berhenti orang itu, terus aku hajar dia” Rafael kembali menjelaskan
“kenapa kamu ga langsung telepon aku pas kamu di hadang?” Morgan menyela
“aku udah coba kontak kamu berkali – kali, tapi kamunya ga angkat “ Rafael membela diri
“maaf tadi aku sedang ada urusan penting tadi” kata morgan.
“yaudah sekarang kita pulang ya, aku obatin kamu dulu.” Aku berusaha membantunya bangkit
“gausah ci, aku bisa sendiri, bukanyak kamu hari ini ada les? “ Tanya Rafael.
“iya, ya udah kita pulang sama – sama aja, aku dan Morgan di belakang kamu, tapi kami bawa motornya juga hati – hati ya” pintaku pada Rafael.
            Akhirnya kami bertigapun pulang. Di sepanjang perjalanan aku selalu mengawasi Rafael, dan dia begitu berhati – hati dalam membawa motornya. Akhirnya Rafael sampai di rumahnya, akupun berpamitan pulang karena aku harus bersiap – siap  untuk berangkat Les Biola. Morgan pun mengantarkan aku pulang. Dia begitu santai dalam membawa motornya. Aku begitu tenang dan  bahagia ketika aku di sampingnya. Aku sampai di rumah, akupun segera bersiap – siap. mempersiapkan Biolaku lalu berangkat lagi menuju tempat Les. Morgan kembali mengantarku ke tempat Les. Setelah aku sampai, dia langsung buru – buru berpamitan padaku dan pergi.
            Sudah 2 tahun ini aku menjalani hubungan ini. Hari demi hari kami lewati dengan penuh keceriaan, kini hidupku menjadi lebih berwarna dengan Morgan yang selalu ada disampingku. Meskipun kadang kala kami berantem karena masalah – masalah kecil yang kami hadapi. Namun beruntungnya kami, karena selalu menjadi penengah dalam setiap masalah kami.
            Hari ini aku latihan full sampai nanti malam, karena beberapa minggu lagi, akan diadakan pertujukkan orchestra yang besar dimana aku terlibat di dalamnya. Setelah selesai aku mengabari ayahku untuk menjemputku pada pukul 8 di halte depan tempat les. Karena ada urusan akhirnya ayahku tidak bisa menjemputuku dan aku meminta Morgan untuk mengantarku pulang. Kuhubungi dia, namun beberapa kali aku mencoba menghubungi dia tak ada satupun jawaban. Satu jam berlalu aku tidak tahu bagaimana aku pulang, akhirnya Rafael tiba – tiba menghubungiku, dia memberitahukanku bahwa Morgan pasti akan datang untuk menjemputku, meski itu yang terakhir, aku tak mengerti apa maksudnya tapi Aku terus menunggunya, berharap Morgan akan segera datang. Waktu terus berlalu, 2 jam dalam penantian yang cukup meresahkan. Akhirnya dari arah kejauhan aku melihat Morgan mengendarai sepeda motornya dengan tidak teratur. Bukan perasaan lega yang aku dapatkan melainkan perasaan kalut, sekejap aku langsung menangis. Dia turun dari motornya, aku segera menghampirinya. Morgan terlihat berlumuran darah, kedua pipinya lebam, bahkan di perutnya terdapat luka tusukan. Ia sekarat di depanku, dalam detik – detik terakhirnya ia berusaha menjelaskan semua. Dia terjatuh di pangkuanku.
“aci maaf selama ini aku telah mencari tahu dia  dan akhirnya aku mengerti ternyata orang yang membuatku seperti ini, dan membuat ayahku meninggal adalah ayah kamu, om Suherman.”
“kenapa kamu baru memberi tahuku sekarang?” Aku semakin menangis sekencang – kencangnya. Berusaha terus mendengar penjelasan yang begitu membuatku terpukul.
“Rafael nekat mendatanginya, dan aku menyusulnya kesana tapi setelah sampai disana Rafael sudah mati dihajar anak buah bajingan itu” dia berusaha untuk menjelaskanya
“jadi Rafael juga udah mati?” tangisanku semakin menjadi – jadi.
“aku benar – benar minta maaf karena ayah kamu sekarang juga sudah meninggal, aku tahu dia ayak kamu juga tadi, setelah aku tidak sengaja menemukan foto kamu dan ayahmu di dompetnya. Aku harap kamu memaafkanku dan berharap kamu tegar. Se….selamat tinggal Aci. Aku sayang kamu, dan terimakasih udah menjadi orang terakhir dalam hidupku .” Dia memegang tangaku begitu erat.
            Morgan menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku, aku hanya bisa menangis. Aku begitu menyesali semua perbuatan ayahku, mengapa ia begitu tega memisahkaku dengan orang yang aku cintai. Dan akupun berteriak sekeras yang aku bisa.
“Morgaaaaaaaan……”
-Begitulah ketika takdir telah berbicara, sekuat apapun manusia untuk mengelaknya takdir tetaplah takdir.
 -END-
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak ;)